SELAMAT DATANG DI BLOG SUGENGSTRIM

Friday, 31 December 2010

DAMPAK NEGATIF DARI WIFI BAGI KESEHATAN

Dampak Negatif Dari WIFI (Wireless
Fidelity) – Wi-fi (wireless fidelity) yang lebih
dikenal sebagai jaringan lokal nirkabel semakin
populer terutama di negara-negara maju dan
berkembang. Dengan wi-fi orang bisa masuk ke
jaringan internet tanpa harus repot
menyambungkan kabel dari komputer ke line
telepon.
Di balik kemudahan yang ditawarkan wi-fi, ada
beberapa keyakinan publik yang menganggap wi-
fi berdampak negatif terhadap kesehatan. Mereka
yang tidak setuju dengan kehadiran wi-fi
beralasan radiasi elektro magnetik dari wi-fi bisa
menyebabkan nyeri di kepala, gangguan tidur
dan mual-mual, terutama bagi mereka yang
electrosensitive. Tapi benarkah wi-fi berbahaya
bagi kesehatan?
Ketakutan akan dampak buruk wi-fi terhadap
kesehatan ini dimentahkan ilmuwan Inggris.
Seperti yang diungkapkan Sir William Stewart,
ketua Health Protection Agency, mengatakan
pada BBC Programme Panorama, tak ada yang
perlu dikhawatirkan dengan teknologi wi-fi. Tak
ada bukti pasti yang menyebutkan, perangkat
seperti ponsel dan wi-fi menyebabkan kesehatan
terganggu.
Hal senada juga diungkapkan Professor Lawrie
Challis, dari Nottingham University. Dalam
pernyataannya pada BBC, Prof Challis, yang
menjabat sebagai ketua Mobile
Telecommunications and Health Research (MTHR)
menyebutkan: “Radiasi elektro magnetik dari Wi-fi
sangat kecil, pemancarnya juga berkekuatan
rendah, selain itu masih ada jarak dengan tubuh.
“Bisa jadi radiasi elektro magnetik sangat dekat
dengan tubuh, ketika kita memangku laptop,
namun dalam pengamaatan saya setiap orang
tua akan meminta anak mereka untuk tidak terlalu
sering menggunakan ponsel mereka dan selalu
meminta mereka untuk menaruh laptop di atas
meja, bukan di pangkuan, jika mereka berinternet
terlalu lama.”
Untuk mendukung pernyataan ini, tim Panorama
BBC mengunjungi sebuah sekolah di Norwich,
yang memiliki seribu siswa, dan mencoba
membandingkan tingkat radiasi dari ponsel dan
penggunaan wi-fi di dalam kelas. Hasilnya
menunjukkan radiasi wi-fi di ruang kelas tiga kali
lebih besar dibanding pancaran yang dikeluarkan
ponsel.
Namun ahli kesehatan psikis Professor Malcolm
Sperrin mengatakan sinyal wi-fi yang lebih besar
tiga kali lipat dibanding radiasi ponsel di suatu
sekolah masih belum relevan, karena belum
ditemukan pengaruhnya terhadap kesehatan.
“Wi-fi adalah teknologi yang menggunakan
gelombang radio elektro magnetik rendah, yang
sebanding dengan oven microwave, bahkan 100
ribu kali lebih rendah dari microwave. ”
Tipe radiasi yang dipancarkan gelombang radio
(wi-fi), microwaves, dan ponsel telah
menunjukkan kenaikan level temperatur jaringan
yang sangat tinggi, yang biasa disebut thermal
interaction, namun masih belum ada bukti level
tersebut menyebabkan kerusakan.
Health Protection Agency menyebutkan duduk di
ruangan yang memiliki hotspot selama setahun
sebanding dengan gelombang radio yang
dipancarkan saat bercakap-cakap dengan ponsel
selama dua puluh menit.
“Gelombang radio sudah menjadi bagian dari
kehidupan kita selama hampir seabad atau lebih,
namun jika ada gangguan yang signifikan
terhadap kesehatan, pasti ada kajian yang akan
mencatatnya, dan selama ini berbagai studi masih
belum menemukan bukti transmisi wi-fi bagi
kesehatan.
Hal senada juga didukung Professor Will J
Stewart, rekan dari Royal Academy of
Engineering, yang mengatakan: “Ilmu
pengetahunan telah mempelajari pengaruh
ponsel bagi kesehatan selama bertahun-tahun
dan kekhawatiran akan dampak radiasi ponsel
masih sangat kecil.
“Begitu juga dengan wi-fi, jika digunakan dalam
batas yang wajar tak akan ada pengaruhnya bagi
kesehatan dalam waktu yang lama. Namun
bukan berarti semua radiasi elektro magnetik tak
berbahaya, misalnya sinar matahari yang terbukti
menyebabkan kanker kulit, jadi jika Anda
menggunakan laptop saat berjemur di pantai, ada
baiknya mencari tempat yang teduh,” tambah
Sperrin yang mengatakan sampai saat masih
belum ada banyak bukti yang cukup berrarti akan
dampak negatif wi-fi.
Namun yang lebih dikhawatirkan Sperrin bukan
pada gelombang wi-fi, namun pada perilaku
dalam penggunaan laptop, dan panas yang
dihasilkan laptop pada beberapa bagian sensitif
pada tubuh, yang berdampak pada kesehatan.

Tuesday, 14 December 2010

ASAL USUL REOG PONOROGO

Pada dasarnya ada lima versi cerita populer yang
berkembang di masyarakat tentang asal-usul
Reog dan Warok , namun salah satu cerita yang
paling terkenal adalah cerita tentang
pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi
kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja
Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad
ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat
dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan
dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat
bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan
berakhir.
Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan
perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda
seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu
kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak
muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi
kerajaan Majapahit kelak. Sadar bahwa
pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan
kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu
disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang
merupakan "sindiran" kepada Raja Bra Kertabumi
dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki
Ageng Kutu membangun perlawanan
masyarakat lokal menggunakan kepopuleran
Reog.
Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng
berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai
"Singa Barong", raja hutan, yang menjadi simbol
untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan
bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas
raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para
rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala
gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh
kelompok penari gemblak yang menunggangi
kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan
Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan
kontras dengan kekuatan warok, yang berada
dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol
untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang
berat topeng singabarong yang mencapai lebih
dari 50kg hanya dengan menggunakan giginya .
Populernya Reog Ki Ageng Kutu akhirnya
menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan
dan menyerang perguruannya, pemberontakan
oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan
dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan
warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap
melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun
begitu, kesenian Reognya sendiri masih
diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah
menjadi pertunjukan populer diantara
masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur
baru dimana ditambahkan karakter-karakter dari
cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewondono,
Dewi Songgolangit, and Sri Genthayu.
Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah
cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat
melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun
ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja
Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja
Singabarong terdiri dari merak dan singa,
sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja
Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh
warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam
tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam
mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian
perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan
Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara
keduanya, para penari dalam keadaan 'kerasukan'
saat mementaskan tariannya.
Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya
mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur
mereka sebagai pewarisan budaya yang sangat
kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog
merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk
adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun
temurun dan terjaga. Upacaranya pun
menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah
bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa
adanya garis keturunan yang jelas. mereka
menganut garis keturunan Parental dan hukum
adat yang masih berlaku.